meyelimuti bumi. Keteduhan cahayamu adalah petunjuk bagi kunang – kunang yang sedang kasmaran, isnpirasi bagi pujangga yang sedang mengarungi samudera kata.
Namun,dapatkah kau mengusir awan kelabu dari rongga dadaku?
Duhai bulan…
Malam ini kulihat persamaan antara kau dan aku. Kau terpaku sendiri di langit yang mahaluas, sehelai kerudung hitam menutupi separuh wajah cantikmu, tiada sebutir bintangpun yang sudi menemanimu.
Dan malam ini aku juga termangu seorang diri dalam kesepian yang menusuk jiwa. Hanya kau dan nyanyian lirih daun kurma yang setia menemani.
Ruang dan waktu memisahkanku dari cintaku.
Aku terluka,namun tidak ada yang tahu hikayat darahku ini selain kau dan maha pemilik rahasia.
Orang–orang yang melihatku, menyangka aku selalu bahagia karena aku selalu berusaha tersenyum kepada mereka. Air mataku malu untuk menetes di hadapan mereka. Andai mereka mau meyelami hatiku, sungguh mereka akan tersedu bersamaku.
Entah kenapa aku selalu bebas bercerita apa saja kepadamu? Tanpa rasa segan dan malu.Mungkinkah karena kita sama – sama dilanda rindu?
Mereka yang melihat wajahmu juga tak akan menduga kalau kau sedang terluka. Parasmu yang ayu dan sinarmu yang hangat menutup mata mereka.
Andai mereka mau sedikit memahamimu, mereka akan tahu banyak tentangmu. Dibalik wajah ayumu kau sembunyikan bongkahan – bongkahan cadas. Mereka tidak tahu bahwa kau sangat mengharapkan kehadiran sang bayu yang membelai wajahmu dan setes air pengobat dahagamu, merindui kicauan burung - burung yang akan memeriahkan pagimu.
Malam ini menangislah bersamaku…..!
Duhai yang bercahaya…
Aku pernah jatuh hati pada seseorang, namun aku tidak berani mengatakannya. Mungkin karena dia yang terlalu mulia atau aku yang pengecut? Ah..aku tidak tahu.
Ya…
aku merindui cinta yang bahkan belum sempat terucap.Salahkah?
Dulu, dia yang mengisi cahaya dalam rongga dadaku, menuangkan madu kebahagian dalam cawan kehidupanku.Hari - hari yang kulalui bersamanya begitu indah, penuh warna.
Sekarang, semua itu hanya tinggal sepotong kenangan. Hari - hari indah yang kurajut bersamanya telah berlalu, demi cita - cita dan harapan hari esok yang lebih cerah aku pergi meninggalkannya. Aku tak tahu, apakah aku akan bertemu dengannya lagi?
Mungkin, aku terlalu bodoh karena tidak memberinya kepastian, Tapi, siapalah aku, sehingga mampu memberi kepastian?
Saat itu, untuk berjalan saja aku masih goyah, bagaimana bisa aku menyuruhnya untuk menungguku?
Saat ini, aku tidak tahu dimana dia berada. Mungkin kau tahu?
Malam ini, aku punya satu permohonan kepadamu. Kabarkan kisahku ini ke singgasana langit, semoga dengan kata-katamu yang diatas merasa kasihan kepadaku dan mau memberiku kesempatan untuk kembali bersua dengannya.
Hei..
Kenapa cahayamu memudar? Bosankah kau mendengar celotehanku?
Kenapa begitu cepat kau ingin pergi? Tak sudikah kau menemaniku untuk satu - dua lagu lagi
0h…ternyata hari telah fajar.